Melambatkan Waktu, Melejitkan Produktivitas
(pesan dari Mocopat Syafaat Maret 2009)
Malam itu, aku baru sampai tempat maiyah jam 22.00. Sesampainya di lokasi, tempat parkir tampak penuh. Tapi malam itu terasa tidak biasa. Jumlah motor tampak jauh lebih bejubel ketimbang biasanya. Tata ruang panggung dan pengunjung pun lain. Sampai di tengah-tengah suasana maiyah, kulihat para pengunjung antusias menyimak jalannya acara. Mata mereka tertuju pada panggung yang agak tinggi dan lebar, sebagian memandang ke arah layar tancap yang layarnya tak bisa diam karena tidak kuat menahan deru angin malam penuh bintang itu.
Seperti biasa, kubawa tubuhku merangsek menyelusup di antara ratusan penonton yang berdempet-dempetan. Sampai di depan panggung, merasa bahwa mataku sudah cukup menjangkau area panggung, langkah kuhentikan. Beberapa detik kemudian, setelah kulayangkan padanganku ke panggung, aku baru bisa mencerna bahwa yang hadir malam itu adalah Noe, Uchi istrinya, CN, Harwanto Dahlan, Kiai Romli (utusan dari rombongan Malang), dan seorang pemuda dari rombongan Kenduri Cinta Jakarta yang aku belum tahu namanya. Yang lain di panggung itu adalah hadirnya beberapa kelompok Band. Salah satunya bernama Ni Wangi. Lagu-lagu yang dibawakan adalah Sweet Child O’Mine-nya Guns n’ Roses dan lagu bernada reggae yang aku belum tahu judulnya waktu itu dan belum tahu siapa yang memopulerkannya (baru malam ini aku tahu, lagu itu bertajuk “I’m Yours” by Jason Mraz). Tapi yang jelas, lagu tersebut terasa nyaman dan renyah didengar. Apalagi yang membawakannya seorang perempuan tak berjilbab tapi sopan nan cantik bernama Nazlyn (bener ga ya?). Subhanallah..baru kali ini kulihat perempuan secantik itu! Hahaha.lebay..PLAKS@#$#%%PLAKS$%$@$#)).
Pengunjung pun kemudian tampak terpingkal-pingkal kala menyimak obrolan kocak dari Kiai Romli dari Malang. Dia banyak menyinggung hal-ihwal penikahan, malam pertama dan lika-likunya dan sesekali menyentil Sabrang dan istrinya.
Malam itu, bisa dikatakan, adalah malamnya Sabrang (Noe). Pasalnya, hampir semua pembicara di panggung – tak terkecuali Cak Nun (CN) sang ayah — menyentil, menyindir, dan bahkan bertanya langsung padanya tentang apa saja. Sementara CN terus memberondongnya dengan aneka macam pertanyaan yang awalnya tampak sederhana (kenapa lirik2 Letto multiinterpretatif, apa arti sesungguhnya dari lirik-lirik dalam lagu “sebelum cahaya”, apakah Letto jadi tujuan utama hidupmu?) tapi kemudian terus masuk pada persoalan2 substantif kehidupan (apa makna “manusia sebagai khalifah di bumi”? dll).
Untuk menjawab serbuan pertanyaan dari ayah tercintanya, Noe menjawabnya dengan raut muka penuh ketenangan. Mengenai lirik2nya yang terkesan multiinterpretatif, dia bilang akan menyerahkan sepenuhnya pada pendengar. Lebih lanjut, Noe bilang bahwa Letto bukanlah tujuan utama, tapi adalah “baju” sementara. Tentang “manusia sebagai khalifah di bumi”, berikut ini kutipan YM-an antara aku dengan sobatku Aries (iman_solo91) yang banyak bertanya soal itu, termasuk makna lirik-lirik “sebelum cahaya”:
iman_solo91: nah, terusnya…
chair_real: noe banyak ngutip teori2 fisika dalam menyikapi hidup ini
chair_real: bahwa alam semesta sebenarnya bersifat non lokal
chair_real: semuanya saling bertautan dan berkaitan
chair_real: bersenyawa
chair_real: dan manusia sbg khalifah bisa mengendalikannya
chair_real: tp tak semua manusia bisa mengendalikan
chair_real: butuh satu kiat: melambatkan waktu
chair_real: contohnya, seperti yg dilakukan orang2 jawa dulu
chair_real: orang china dengan taichinya
chair_real: dan orang islam dengan zikir kuatnya sebelum fajar
chair_real: saat waktu “terasa melambat” maka produktivitas2 akan tercipta
iman_solo91: maksudnya……
chair_real: contohnya gampangnya, kita akan merasa bahwa waktu menjadi sangat lama ketika menjelang berbuka puasa
chair_real: padahal sebenernya cuma beberapa menit
chair_real: nah, pada saat2 seperti itulah derajat kemanusian kita meningkat
chair_real: contoh lain, orang2 jawa dulu melakukan ritual
chair_real: di dalam kamar gelap
chair_real: 3hari 3 malam
chair_real: tak makan tak minum
chair_real: kl dalam islam ada istilah uzlah
iman_solo91: melambatkan waktuuuu??
iman_solo91: bisa kasih contoh korelasi
chair_real: maka, pada saat kemampuan2 melambatkan waktu itu diasah dan terus dalam, maka terbitlah kemampuan2 mengetahui hakikat hidup, melakukan hal2 yg tdk bs dilakukan oleh org2 awam
chair_real: saat uzlah, waktu menjadi sangat lambat
chair_real: tapi ruh bisa sangat cepat bertemu dengan ruh Allah
chair_real: dalam fisika, einstein menamakannya hukum relativitas
iman_solo91: contoh melakukan yang tak bisa dilakukan oleh orang awam itu apa?
chair_real: bisa memerintahkan daun jatuh dan hinggap di tangan kita
chair_real: indonesia pun bisa berubah
chair_real: kalo semua orang indoensia “mbatin” percaya dan optimis bahwa indonesia bisa berubah baik
chair_real: yg terjadi skrg kan orang indonesia banyak mengeluarkan keluhan dan psimis
chair_real: dengan keadaan indonesia
chair_real: tentang waktu yg melambat, einstein sendiri pernah mencontohkan
chair_real: kapal terbang di angkasa yg melaju suangat cepat
chair_real: akan tampak lambat saat melihatnya di bawah
chair_real: dan seperti tdk bergerak ketika kita berada di dalam pesawat itu
iman_solo91: ooo….
iman_solo91: truz, malam itu Letto nyanyi ga?
chair_real: mlm itu Letto pun beraksi
chair_real: dengan lagu2 hits mereka
chair_real: kdg juga duet ma mbak via
chair_real: I-)
iman_solo91: sory, lagi ganti lokasi biar dapat sinyal agak sedikt cepat
chair_real:
fine
iman_solo91: truz gmn dg makna “sebelum cahaya”?
chair_real: ttg makna lagu seblum cahaya, noe menyerahkan sepenuhnya pada pendengar.
chair_real: tapi dia tdk menyalahkan kalo ada yg memaknai bahwa itu shalat tahajud
iman_solo91: meski kadang pendengar juga ingin tahu latar belakang kepnulisan itu…iya kan…?
chair_real: dimana Allah akan selalu menemani hambanya saat2 itu
chair_real: saat2 perjalanan sunyi
iman_solo91: karena hanya sunyi yang membuat hati tak mendua hati kepada Tuhan
iman_solo91: kata emha,..
chair_real: yup
chair_real: ada perntanyaan kah yg mengganjal dr kata2ku tadi?
iman_solo91: belum…he9x
chair_real: ok kl gitu
chair_real: aq off dl ya
iman_solo91: ok
chair_real: tq
Maiyah “Mocopat Syafaat” malam itu dipungkasi oleh CN dengan lagu berlirik Jawa yang sudah tidak asing bagi kita, “Tombo Ati”. Lantunan lagu yang senantiasa menggetarkan jiwa ketika dinyanyikan ini seolah menjadi kesimpulan besar dari seluruh pembicaraan pada pertemuan yang berkesudahan pada pukul 03.00 pada permulaan hari Rabu itu. [chairilzm ]
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Leave a Comment »
