Etos Budaya Masyarakat Australia: catatan perjalanan mengikuti program MEP 2013

Saat-saat itulah salah satu momentum yang saya tunggu dalam hidup saya. Ya, saya berada di luar negeri! Apalagi di negara menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama mereka. Impian yang menjadi kenyataan. Terdengar agak klise dan norak memang. Tapi begitulah adanya. Betapa tidak? Saya sudah cukup lama belajar dan mengajar Bahasa Inggris dan sudah lama sekali punya keinginan yang terdalam untuk bisa mempraktikkan dan mengasah keterampilan (utamanya speaking) saya selama ini dengan native speaker yang langsung dari sumbernya. Selain tidak menafikan tujuan diadakannya program ini, yaitu mengamati kehidupan beragama masyarakat Australia dan mengenal serta berinteraksi dengan lembaga-lembaga keagamaan di sana.
Maka mendapatkan kesempatan untuk bisa mengikuti Program Pertukaran Tokoh Muslim Muda Australia-Indonesia (Australia-Indonesia Youth Muslim Exchange) merupakan kesempatan yang sangat berharga dan tidak akan pernah terlupakan dalam hidup saya. Ditambah lagi saya memperoleh kesempatan itu dengan susah payah dan penuh perjuangan.
Saya katakan “susah payah” karena saya harus mengirimkan berkas aplikasinya sebanyak empat kali (2009, 2010, 2011, dan 2013) dan harus mengikuti tes wawancara sejumlah tiga kali (hanya pada 2011 tidak lolos tes wawancara) di Jakarta untuk bisa lolos dan “memenangkan” program ini pada 2013.
Pun “penuh perjuangan” karena setiap kali dinyatakan lolos wawancara saya musti ke Jakarta. Itu artinya saya harus meluangkan waktu 2-3 hari untuk bolak-balik Jogja-Jakarta dengan kereta api. Dan untuk bisa sampai ke tempat wawancara di kampus Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina Jakarta saya harus berhadapan dengan tebalnya polusi udara dan kebisingan serta kesemrawutan lalu lintas darat Ibukota. Untuk orang desa yang udik seperti saya, itu adalah perjuangan.
Namun saya senang karena punya harapan. Harapan untuk bisa menggapai sebuah impian. Harapan, bagaimanapun bentuknya, selalu menawarkan keindahan dan spiritnya sendiri. Saya pun bersyukur karena dengan bolak-balik Jogja-Jakarta ini saya kemudian sedikit lebih mengenal kota Jakarta dan lika-liku kepadatan lalu-lintasnya. Saya lalu jadi tahu, misalnya, di mana tempat-tempat untuk bisa beli makan di warung yang murah nan meriah. Saya lalu juga tahu di mana area yang nyaman untuk sekedar istirahat sejenah melepas lelah di stasiun Pasar Senen dan lain sebagainya.
Sekali lagi, saya sangat bersyukur pada akhirnya saya bisa mengikuti program ini. Dari informasi yang saya dapatkan, dari sekian ratus pelamar pada tahun 2013 tersebut, hanya sepuluh orang yang beruntung dan bisa berangkat ke Negeri Kanguru selama dua minggu di tiga kota besar, yakni Melbourne, Canberra, dan Sydney.
Nah, dari program yang diselenggarakan oleh Australia-Indonesia Institute (AII) tersebut, saya mendapatkan dan menemukan banyak hal yang menarik perhatian saya, yang tentunya berbeda dengan yang saya temukan di Indonesia. Dari sekian banyak hal yang berbeda itu, dalam tulisan ini saya lebih memilih untuk menitikberatkan pada etos kebudayaan masyarakat Australia pada umumnya.
Etos adalah pandangan hidup yg khas dari suatu golongan sosial. Etos kebudayaan bermakna sifat, nilai, dan adat-istiadat khas yang memberi watak kepada kebudayaan suatu golongan sosial masyarakat. Begitu bunyi definisinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Etos-etos kebudayaan yang saya coba ketengahkan di sini adalah budaya kerja, budaya jalan kaki, dan budaya taat hukum (dalam hal ini masyarakat Australia).

Budaya Kerja
img_2950Pagi sekitar pukul 6.20 kami berlima (saya, Muhammad As’ad, Wahyudi, Nailun Najah, dan Siti Hanifah) tiba di Melbourne GA 716. Kami disambut oleh rinai gerimis berselimut kabut pagi nan lembut—saya lalu menyebutnya sebagai welcome rain. Seruak hawa dingin yang tidak biasa menyapa kami. Di saat kedinginan itu, kami disambut dengan penuh kehangatan oleh pemandu kami yang sudah berumur namun sangat enerjik, menarik, welcome dan helpful. Namanya Christina Rafferty-Brown—kami kemudian dengan akrab (hingga kini) memanggilnya Bu Christ.
Kami menunggu bis datang menyambang untuk mengantarkan kami ke hotel tempat kami menginap selama tujuh hari kedepan. Kami direncanakan menginap di hotel berbintang 4 bernama Darling Towers di Collin Street 233, Melbourne. Dalam perjalanan menuju hotel, saya melihat banyak orang dengan baju setelan kerja masing-masing berjalan setengah berlari dengan tergopoh-gopoh di sepanjang pinggir jalan yang kami lalui. Seolah tak ingin terlambat sampai di tempat kerjanya.
Begitu juga ketika mereka berjalan melalui jalan penyeberangan saat lampu merah. Saya perhatikan lampu hijau tanda penyeberangan juga—sepertinya—disetting sangat cepat. Hanya beberapa detik sehingga “memaksa” penyeberang jalan untuk berjalan lebih cepat lagi.
Selain ter-tradisikan untuk datang dan pulang kerja on time, para pekerja di Australia sepertinya juga terbiasa untuk bekerja dengan cepat dan profesional. Bu Christ bisa menjadi representasinya. Beliau selalu bekerja dengan cepat, on time, dan profesional. Meskipun begitu, dia—dalam beberapa hal—cukup fleksibel dan dapat memahami kami lantaran dia sudah pernah lama bekerja di Malang sehingga dia tahu bagaimana kebiasaan kami orang-orang Indonesia yang, pada umumnya, sangat sangat fleksibel dan berkompromi dengan waktu. Kadang saya malu bila mengingat hal itu.

Budaya Jalan Kaki
img_2970Jalan kaki di kalangan masyarakat Australia sudah sangat membudaya. Kemana-mana, bila tak terlalu jauh, mereka lebih terbiasa untuk memilih berjalan kaki daripada naik sepeda motor atau angkutan umum. Di sana pengendara motor juga sangat jarang. Di samping karena memang angkutan umum sudah terbiasa beroperasi dengan sangat baik (tepat waktu, nyaman dll), pemerintah Australia sendiri juga sangat mendukung dengan dibuatnya sistem rapi dan kebiijakan-kebijakannya atas pentingnya penggunaan angkutan umum seperti trem, bus mini dll ketimbang kendaraan pribadi. Apalagi sepeda motor, pemerintah Australia sangat ketat dalam pemberian ijin kepemilikan kendaraan beroda dua tersebut.
Berbeda dengan yang sejauh ini terjadi di Indonesia. Pemerintah Indonesia kurang memberi perhatian (secara serius) terhadap pentingnya penggunaan angkutan umum massal. Sepeda motor dan mobil impor mudah sekali masuk dan dimiliki oleh masyarakat luas. Ditambah lagi dengan semakin banyaknya kemudahan dalam pemilikan sepeda motor dan mobil. Karenanya mudah sekali kita dapati mobil-mobil dan sepeda motor jenis terbaru dalam berbagai merk di jalan-jalan di Indonesia.
Di saat pemerintah daerah mencoba menggalakkan angkutan umum dengan membangun dan mengoperasikan Mass Rapid Transport (MRT), misalnya, pemerintah pusat malah memuluskan perijinan proyek pengadaan Mobil Murah Nasional (yang bagi saya tetap saja masih sangat mahal). Akibatnya, lalu lintas pun kian macet tak terkendali terutama di kota-kota besar di Indonesia.
Di Indonesia, kita akan jarang menemui kerumunan orang yang jalan kaki di trotoar dan zebra cross penyeberangan. Umumnya mereka lebih memilih untuk naik sepeda motor. Cepat dan tidak capek, begitu pikir mereka. Padahal dengan jalan kaki, otot-otot kaki kita menjadi kuat dan tubuh pun sehat. Kalau Anda ke Australia, Anda akan dengan mudah mudah mendapati orang-orang tua di atas 60 tahun yang berjalan-jalan kaki atau bepergian ke tempat-tempat umum dan wisata. Dan bila Anda perhatikan, wajah mereka masih tampak semringah, kencang, dan muda. Begitu juga dengan tubuh mereka. Padat dan sehat.
Dan hal itu saya temukan sendiri pada diri pemandu kami, Bu Christ. Beliau yang usianya lebih dari 60 tahun itu masih sangat kuat memandu kami dengan berjalan kaki di malam hari dengan jarak cukup jauh (bagi kami) menyusuri Pearcedale Moonlit Wildlife Sanctuary di daerah Peninsula, Victoria guna memandangi dan memotret kehidupan binatang-binatang khas Australia seperti Kanguru, Koala, dan teman-temannya.
Budaya Taat pada Hukum
Di Australia, hukum ditegakkan secara tegas dan ketat sedemikian rupa. Jadi jangan harap Anda akan mangkir dari aturan yang diberlakukan di sana. Ketat dan tegasnya penegakan hukum ini menyebabkan warga masyarakatnya taat dan tak dapat mengelak serta melanggar. Memang sudah seharusnya seperti itu. Karena sifat dasar hukum adalah memaksa demi tercapainya keteraturan dan ketertiban masyarakatnya.
Budaya taat hukum dan aturan ini tampak sekali ketika warga Australia hendak memarkirkan kendaraannya. Mereka harus selalu memastikan dengan benar terlebih dahulu apakah tempat yang akan digunakan untuk parkir itu kosong atau bisa digunakan oleh umum dan apakah parkir itu diperuntukkan bagi kendaraan tersebut. Jika tidak begitu, mereka pasti akan mendapatkan sanksi atau denda. Di akhir bulan, mereka akan mendapati jumlah tagihan yang membengkak (disebabkan oleh pelanggaran yang dilakukan) di rekening mereka. Jadi mereka akan berpikir ulang untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran.
Di samping ketegasan penegakan hukum oleh pemerintah dan aparat-aparatnya, keberhasilan tersebut juga didukung oleh kesadaran masyarakatnya atas pentingnya ketertiban dan keteraturan (well-organized). Merasa sadar betul bahwa akibat dari ketaatan mereka pada hukum itu pun toh mereka sendiri yang akan merasakannya.
Berbeda dengan yang biasa saya temui di Indonesia. Hukum ditegakkan dengan pelaksanaan yang sangat fleksibel. Masyarakat begitu mudahnya melakukan pelanggaran-pelanggaran. Jika ketahuan pun, itu tidak kemudian membuat mereka dan orang lain jera. Remisi hukuman rutin dilakukan. Bahkan kepada koruptor sekalipun.
Tak jarang saya dapati kendaraan yang diparkir sembarangan. Sering pula saya jumpai orang yang seolah tidak merasa bersalah ketika membuang sampah sembarangan lewat jendela kaca mobilnya. Mendapati kelakuan seperti itu terkadang terbesit dalam hati saya tindakan yang agak ekstrim konyol: saya pungut benda yang dibuang itu, sebisa mungkin mengejar mobil itu dan melemparkan sekeras-kerasnya ke dalam kendaraan berkaki empat itu. Kalau orang yang di dalam mobil tadi marah kepada saya, saya akan balik marah lebih keras kepadanya. Namun sepertinya itu tidak akan terjadi karena orang yang bersalah sejatinya akan (diam-diam) mengakui kesalahannya. Kecuali kalau hatinya sudah gelap dan kalap.
Walhasil, kita bisa becermin dan belajar dari etos budaya masyarakat Australia. Terutama sekali pada tiga hal yang sudah saya ceritakan di atas. Namun begitu, bukan berarti semua-mua etos budaya yang berkembang di Negara Benua tersebut baik untuk diterapkan di Indonesia. Dan juga bukan berarti semua etos budaya yang terjadi dan ada di Indonesia adalah buruk. Tidak. Tentu ada—bahkan banyak—hal-hal yang baik dimiliki oleh Indonesia dan tidak akan pernah bisa dimiliki oleh Australia. Begitu juga sebaliknya.
Pandangan saya ini pun saya yakin tidak sepenuhnya menjamin telah merepresentasikan tipologi etos budaya masyarakat Australia yang sesungguhnya secara keseluruhan. Ini karena sampelnya cuma tiga negara bagian (dari sekian banyak negara bagian di Australia). Namun setidaknya hal ini bisa menjadi gambaran secara umum.
Dan setidaknya, budaya-budaya baik yang saya sebutkan di atas bisa menjadi acuan bersama bagaimana sebuah negara maju menata masyarakatnya, dan bagaimana masyarakat maju berperilaku dan bercara pandang. Pada akhirnya, kita bisa belajar dan mengambil kebaikan dari siapa saja. Sebagaimana kata-kata Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), ambillah yang baik biarpun itu dari dubur keledai sekalipun.

sydney

dari kiri: Rowan Gould, M. As’ad, Nailun Najah, Hanifah, Wahyudi, saya, David Drennan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: