Gadis Kecil Berkalung Buku

Buku adalah benda luar biasa.

Buku bagai taman indah penuh bunga aneka-warna,

bak permadani terbang yang sanggup melayangkan kita

ke negeri-negeri yang tak dikenal sebelumnya.

[Frank Gruber, 1944]

Gadis Kecil itu Bernama Nuha

NuhaSiang itu, seperti siang-siang sebelumnya, sinar mentari begitu panas dan terik. Namun rimbun pepohonan dan taman bunga ragam rupa membuat suasana sekolah itu tampak asri sehingga panas dan terik tak begitu terasa menyengat ubun-ubun kepala. Angin sepoi-sepoi sesekali menerpa anak-anak kecil yang berlarian lalu lalang bermain di halaman dan koridor-koridor sekolah SD Budi Mulia Dua Pandeansari Yogyakarta. Suara mereka memenuhi tiap ruang sekolah. Sangat riuh.

Dari kejauhan tampak duduk bersandar sesosok anak sendirian di pojok ruang perpustakaan yang tak terlalu luas itu. Dengan kaki tertekuk, buku besar dihamparkan di atas kedua pahanya. Sorot matanya asyik menelusuri tiap baris kata dan bermacam gambar di buku tebal tersebut. Seliweran kaki dan gemuruh suara teman-temannya tak sedikit pun mengusik kekhusyukan membacanya, menjelajahi petualangan baru di tiap halamannya.

Sesekali salah seorang temannya mengajaknya turut bermain bersama tapi dia kekeuh melanjutkan bacaannya. “Nanggung niih..,” katanya tanpa menoleh ke arah suara yang memanggil tadi. Di samping kanannya tampak kotak kardus tempat pengembalian buku sudah hampir penuh dengan buku-buku yang sudah dibacanya sementara di sebelah kirinya tergeletak tumpukan buku lainnya yang siap baca.

Dia terlihat sedikit terkejut dan membetulkan letak duduknya ketika sayup-sayup mendengar seorang guru kelas menegurnya pelan, “Nak, sudah waktunya masuk kelas.” Akhirnya dengan berat hati dia beranjak membereskan buku-buku tadi, menaruhnya di kotak kardus di sampingnya dan berlari-lari kecil ke kelas 2 Madinah yang letaknya berdekatan dengan perpustakaan yang oleh sekolah dinamakan “Smart Class” itu.

Gadis kecil bermata agak sipit yang penulis ceriterakan dan menjadi tokoh utama dalam tulisan ini bernama Nuha. Nama lengkapnya Ulatun Nuha Zahratul Jannah. Di kelas, memang dia terkesan pendiam dan tak suka banyak mengobrol dengan temannya. Saat doa bersama sebelum dan setelah pelajaran pun biasanya ia lalui dengan melamun, seperti tengah membayangkan sesuatu. Setelah ditegur guru kelas, dia biasanya baru mau berdoa. Namun selang beberapa saat, dia pun akan kembali terpaku dalam lamunannya semula.

Terkadang, ketika guru tengah menerangkan pelajaran, dia asyik membuat sketsa-sketsa di sesobek kertas kosong untuk kemudian menjadi sebuah lukisan. Ketika ditanya tentang gambar itu, ia bisa berbicara panjang lebar ihwal isi gambar dan detil cerita di dalamnya. Sang guru pun mencoba menyenangkannya dengan menyimaknya secara seksama sambil sesekali ditambahi kata-kata, “Oh ya!”, “Wow!”, “Pintar kamu, Nak!”, “Kamu memang hebat”, dan pujian lainnya.

Tak hanya itu, suatu hari ketika baru masuk kelas, tiba-tiba dia menemui guru kelasnya seraya membawakan sesuatu seperti origami bunga, kliping cerita berbahasa Inggris, gambar telepon genggam tercanggih merk terbaru nan unik, bros dan lain-lain. Tentu saja semuanya adalah karya bikinannya sendiri.

Membicarakan Nuha tak akan ada habisnya: gadis cilik yang ketika berjalan terlihat seperti setengah meloncat-loncat itu hidup di antara orang-orang yang menyukai buku. Ayahnya, Muttaqien, adalah seorang ahli kesehatan masyarakat yang, menurut penuturan Nuha, kini tengah melanjutkan studinya. Sementara ibunya, Teja Komaraningrum, seorang ibu rumah tangga yang selalu meluangkan waktu untuk melakukan penelitian-penelitian secara freelance pada binatang-binatang kecil seperti siput dan lainnya. Sedikit cerita, kedua orangtuanya tersebut tidak menemui kesulitan berarti ketika hendak menjemput anak sulungnya itu sepulang sekolah. Mereka tidak perlu bingung mencari Nuha kemana-mana. Satu tempat yang langsung mereka tuju tanpa ragu adalah Smart Class karena Nuha pasti sudah mangkal di pojok atau di dekat pintu depan sedang suntuk membaca buku.

Tak lain halnya di rumah, kegiatan Nuha selain menggambar dan bermain bersama kedua adiknya adalah membaca buku. Buku apa saja. Namun yang paling disukainya adalah buku-buku tentang sains, tak terkecuali kisah para nabi. Dalam beberapa jam dia sanggup membaca ludes banyak buku. Setelah itu, dia sekali waktu mencoba menuangkannya ke dalam tulisan atau pun gambar. “Aku ingin menulis cerita untuk dibuat buku,” katanya polos, tapi menampakkan kesungguhan.

Hasil gambarnya pun cukup menakjubkan untuk anak seusianya. Gambarnya sangat imajinatif, detil, dan artistik. Meskipun—terus terang—penulis tidak begitu pandai menggambar atau melukis tapi penulis bisa menikmati goresan anak sipit yang suka mengenakan kaos bertuliskan “Ilmuwan Sejati” itu. Sewaktu ditanya soal cita-cita, dengan wajah sumringah dia menjawab, “Aku ingin jadi guru atau peneliti dan punya sekolah sendiri.”

Mengamati gadis cilik ceria nan energik dengan kecintaannya yang luar biasa pada buku seperti Nuha ini membuat penulis jadi berandai-andai: andai saja anak-anak kita sedari kecil suka membaca buku sebagaimana halnya mereka menyukai mainan-mainan menyenangkan lainnya niscaya akan menghasilkan sebuah generasi cemerlang yang memiliki visi tajam nan luas ihwal masa depannya sehingga memunculkan para pemimpin Indonesia yang cerdas berkualitas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: