Batal

Suatu ketika Sarma (4) ikut shalat isya berjamaah di masjid bersama ayahnya yang menjadi imam masjid tersebut. Ayah Sarma ini terkenal sangat teguh memegang ajaran-ajaran Islam mazhab tertentu, hingga hal-hal teknis yang detil sekalipun. Shalat, misalnya. Tiap subuh, ia selalu menyertakan doa qunut tiap rakaat kedua. Ia tidak akan mau shalat di suatu masjid yang di situ imamnya tidak menyertakan doa qunut. Nggak mantep, katanya beralasan.

Tak hanya itu, pada saat duduk tasyahud, ia paling geram ketika mendapati jamaah yang menggerak-gerakkan jari telunjuknya berkali-kali. Menurutnya, itu termasuk dapat membatalkan shalat karena orang yang shalat tidak boleh menggerakkan-gerakkan anggota badan tiga kali berturut-turut. Dan hal-hal yang semcam itu selalu ditanamkannya kepada semua anaknya, termasuk Sarma.

Seperti biasa, Sarma selalu duduk di samping ayahnya waktu shalat berjamaah. Sampailah shalat pada gerakan tasyahud awal. Dan saat itulah Sarma untuk pertama kalinya melihat seorang makmum muda yang berada tepat di belakang ayahnya tengah menggerak-gerakkan jari telunjuknya berkali-berkali. Sarma pun ingat nasihat ayahnya. Merasa ada yang keliru, seketika bocah kecil itu merangsek mendekat lalu memegang erat-erat jari telunjuk tersebut agar tidak bergerak-gerak lagi. Tidak menduga sama sekali adanya “serangan” itu, pemuda tadi pun seketika terkejut dan hilanglah konsentrasinya hingga akhirnya ia memutuskan untuk membatalkan shalatnya. Batal deh, gerutunya dalam hati. [ ]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: